Ketika mantel hujan berkata Eureka.
Momen ini terjadi ketika nusantara amat merindukan sosok yang biasa dipanggil hujan. Sudah beberapa waktu nusantara dilanda kemarau berkepanjangan, kekeringan dimana-mana, dari sabang sampai merauke. Bahkan kabut asap seolah menjadi pasangan paling setia untuk kemarau ini, dimana ada kemarau melanda nusantara, disitu ada kabut asap menemani.
Momen ini terjadi ketika nusantara amat merindukan sosok yang biasa dipanggil hujan. Sudah beberapa waktu nusantara dilanda kemarau berkepanjangan, kekeringan dimana-mana, dari sabang sampai merauke. Bahkan kabut asap seolah menjadi pasangan paling setia untuk kemarau ini, dimana ada kemarau melanda nusantara, disitu ada kabut asap menemani.
Pada kasus ini kepulauan sumatera yang menjadi tumbalnya, khususnya provinsi riau. Sejauh pantauan media, bahwa kabut asap ini sudah masuk level bahaya yang mengganggu jarak pandang dan menggu pernafasan. Di pulau jawa memang tidak terdengar isu adanya kabut asap, yang ada di pulau jawa adalah bencana kekeringan, dimana-mana banyak ditemui kasus kekeringan. Bahkan bogor yang notabene kota hujan, seolah dipunggungi oleh hujan itu sendiri.
Namun momen yang ditunggu-tunggu tersebut akhirnya datang, setelah beberpa bulan dilanda paceklik dan kekeringan, pada 14/09/2015 hujan pertama mengguyur area Bogor Timur dan sekitarnya dengan cukup deras, kurang lebih satu jam hujan menyapa atap-atap rumah. Bau petrichor itu kawan, ah wangi sekali. Dan tiba-tiba ketika hujan berlangsung tiba-tiba ada yang mengajak bercengkrama dan terlihat sekali dia sumringah bahagia.
A: "Alhamdulillah... Eureka, hujan yang ditunggu akhirnya datang juga, semoga bisa berkesinambungan dan menandakan musim hujan kembali datang, dengan begini kan aku bisa ikut jalan-jalan lagi... Hehehehee"...
Yapp... Dia adalah mentel hujanku, sama sepertiku, merindukan hujan dan penantiannya dan penantianku pula penantian khalayak banyak terbayar pada 14/09/2015 itu, hujan mengguyur deras..


0 komentar:
Posting Komentar